DISTORSI Sebuah Sastra Terjemahan

22 01 2007

Klo loe pernah baca karya sastra terjemahan, pasti ada kalanya loe gak ngerti salah satu kata-katanya entah ituw istilah, frase, tata bahasa, ataupun gaya bahasa yang berbeda. Contohnya aja novel Harry Potter, gw akuin novel itu emang bagus (secara si penulis J.K. Rowling juga niat bgt sampe bikin bukunya makin gendut di setiap tahunnya). Coba pikir, Harry Potter tuw booming banget di negeri asalnya Inggris, ataupun negara2 yang serumpun bahasa dengan Inggris kaya Amerika, sampe sampe orang niat banget antre berjam-jam cuma buat dapetin novelnya. Bandingin sama Indo, animonya sich lumayan cuman gak sampe bikin antrean panjang kan!? Yoha, itu dia, mungkin inilah yang disebut dengan distorsi sebuah sastra terjemahan.

 

Cinila sendiri bilang novel KITAB para pembunuh yang dibacanya gak terlalu greget dibandingin sama novel aslinya. Katanya sie karena kata2 kasar dalam novel ituw diterjemahkan dengan sangat aneh sehingga makna aslinya jadi gak dapet. Walaupun gw gak respect sama kata2 kasar kaya gini, jadinya gw gak mw baca novel ini.

 

Yah, gimana coba menjembatani perbedaan gaya bahasa kaya gini. Emang sulit gw pikir, si penerjemah juga pastinya dah susah payah nyari kata2 yang pas. Novel SAMURAI yang gw baca juga merupakan terjemahan dari sastra Jepang, pastinya ada beberapa hal dr sastra ini yang terdistorsi. Ada baiknya jg sie kata gw, bisa jadi ini merupakan filter buat kita. Kata-kata yang tidak laik buat ditampilkan bisa terfilter. Tapi mungkin ini jadi masalah buat beberapa orang yang menyukai orisinalitas yach, he2….Bagaimanapun kita harus punya filter dari budaya luar, jangan sampe bolong bgt, foobar nanti jadinya.

Advertisements

Actions

Information

5 responses

6 02 2007
wildan

“Bandingin sama Indo, animonya sich lumayan cuman gak sampe bikin antrean panjang kan!? Yoha, itu dia, mungkin inilah yang disebut dengan distorsi sebuah sastra terjemahan.”

Untuk bagian yang ini gw kurang setuju di. Definisi sederhana distorsi adalah terkotori. Kalau setelah novel atau buku diterjemahkan ternyata ada kata / kalimat yang ternyata melenceng dari maksud penulis novel sebernarnya, itu berarti terdistorsi.

Menurut gw distorsi itu wajar. bener kata lu, gak gampang buat penerjemah novel untuk menentukan terjemahan yang pas agar “gereget” novel aslinya tidak hilang setelah diterjemahkan. Untuk yang bahasa asingnya pas-pasan, membaca novel dalam bahasa asli justru akan lebih banyak mendistorsi pikiran kita ( salah mengerti apa yang ingin diungkapkan oleh novelis ) daripada membaca novel terjemahan.

Balik ke masalah antusias, di luar negeri sono novel sebesar harry potter diluncurkan dengan besar-besaran tepat jam 00:00. Peluncuran besar-besaran gak ada gunanya kalau orang gak tahu, tentu promosi yang dilakukannya juga besar-besaran. di indonesia, promosi peluncuran novel gak sebesar di luar. Orang banyak tahu novel dari orang lain ( mulut-ke-mulut ), baca di majalah, dll. Selain itu, minat baca orang indonesia masih rendah bahkan untuk bacaan seringan novel. Terakhir, jarang ada toko buku buka tengah malam, he3..

Btw, terjemahan tidak memfilter budaya,. Yang mereka filter mungkin hanya kata-kata vulgar yang tak pantas untuk dibaca orang indo. Jika yang difilter adalah budaya asli dari novel tersebut misalkan dengan mengubah cerita tentang pesta ultah jadi pengajian ( kidding ), sama halnya dengan mendistorsi novel secara besar-besaran.

So, untuk masalah budaya, kembali ke diri masing2 🙂

12 02 2007
ans_3d

Setuju……..

28 01 2008
arifn

yap.. terkadang aku lebih suka baca novel aslinya daripada novel terjemahan..
kadang suka aneh terjemahannya…

gaya bahasa pengarang dan keindahan alunan kata juga kadang menjadi tidak terlihat … cie..

4 11 2008
oetary

memang eNak baca aslinya, yah…itung-itung belajar menerjemahkan, walaupun butuh waktu yang lwaaammmaaaa bangetsss!!! yang pasti kita bakal lebih pinter hwehehehe….

5 01 2013
Katelyn G. Ratliff

Soal kutipan dari karya berjudul “Lanang”, gw setuju, itu terasa super pretentious. Bikin kalimat indah nggak harus super berbunga-bunga kayak gitu. Kalimat yang singkat dan efektif tetap bisa menyampaikan keindahan/memiliki unsur estetika jika pilihan kata/diksinya pas dengan konteks. Ah, iseng bikin satu kalimat sastra sesuai konteks protagonis yang seorang mekanik: Matanya menurunmesinkan pelumas hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: